Review : Erha Skincare Palangkaraya

6.05.2018

5 bulan lalu, kulit wajah saya bermasalah lagi. Kira-kira bulan Februari.

Setelah terakhir putus dengan Natasha dan memakai Sensatia, kulit wajah saya jerawatan. Saya pikir, ah mungkin baru adaptasi dari krim Natasha dan setop kemudian pakai Sensatia.

Atau mungin kulit wajah saya kaget atau nagih krim-krim yang biasa saya pakai, saya nggak tahu. Atau memang kurang cocok dengan produk Sensatia, saya juga kurang tau.

Banyak banget jerawat kecil-kecil yang bertebaran di pipi dan kening. Minus hidung dan dagu.

Meskipun kecil-kecil jerawatnya, tapi enggak bisa hilang-hilang dan membuat saya esmosi. Di tambah kulit wajah saya gosong. Sama sekali tidak menyenangkan di pandang.

Eh, sebelumnya ingin tau gak sih kenapa saya putus dengan Natasha ?
Pengen  tau kan kan kan ?
Alasannya sederhana, remeh dan gak masuk akal bak rengginang di kaleng kong guan.

Begini, ada salah satu staff Natasha (laki-laki) yang saya kurang suka. Bukan kurang suka karena dia jelek, item, jerawatan, bau, tidak. Bukan karena itu.

Hanya saja saat melayani saya, dia selalu menghindari kontak mata. Entah kalau dengan yang lain saya kurang tau.

Saat membayar, saat menerima krim dari mas-nya ini, dia bicara tapi matanya enggak. Dan saya gak suka, macam saya ini gak mampu bayar krim yang saya beli. Mungkin juga karena memang dia kalau berbicara seperti itu dan tidak bermaksud meremehkan lawan bicara. Tapi tetep saya tidak suka.
Udah, itu aja alasannya ^^
Alasan yang gak masuk akal kan ? Fix.

Sebetulnya, saya berharap banyak saat menggunakan Sensatia. Terutama karena Sensatia menggunakan bahan-bahan yang "lebih" natural daripada krim dokter. Meskipun harganya tidak murah juga karena saya beli habis 550.000

Tapi apa mau di kata, kulit wajah ini susah banget di ajak kompromi.

Karena sudah males ke Natasha lagi, apalagi ada skincare baru yang baru buka, mau lah nyobain yang baru, Erha.

Sudah lama sih dengar tentang Erha karena teman kerja waktu di Semarang dulu pakai Erha. Wajahnya kinclong bersih berkilat tapi gak putih kayak tembok. Kata dia memang Erha tidak membuat wajah jadi putih tapi bersih. Saya manggut-manggut.

Saya bertanya sama dia, kira-kira kalau pertama kali periksa dan beli krim di Erha bisa habis duit berapa. Teman saya ini bilang, pertama kali ke Erha bisa habis duit sekitar 900 ribu sampai sejutaan. Heleh...bikin mules.

Ada sih uangnya, tapi kalau hanya untuk muka kok ya rada eman bin sayang hehe. Maklum freeelancer.

Ahh tapi masalah jerawat ini sudah tidak bisa di tunda-tunda lagi. Bulatkan tekad, bawa debit card dan credit card. Siap nyicil pokoknya, asalkan jerawat minggat ^^

Tanggal 26 Maret lalu akhirnya saya ke Erha. Berhubung masih baru buka, belum terlalu ramai kalau di bandingkan Natasha. Mungkin belum banyak orang Palangkaraya tau kali ya..

Lokasi Erha ini sangat strategis, di sebelah ruko bank BRI dan dekat banget dengan bundaran besar dan Palmall.

Terdiri dari 2 lantai. lantai 1 untuk ruang tunggu, ruang perawatan, front office, tempat memajang produk Erha seperti di bawah ini, ruang apoteker, kamar kecil dan ruang untuk shalat.

Lantai 2 ada ruang tunggu juga, beberapa ruangan untuk periksa dan kamar kecil.


Erha Palangkaraya lantai 1



Erha Palangkaraya lantai 2


Erha Palangkaraya lantai 2

Saat sampai di Erha, langsung di bukakan pintu oleh sekuriti, lalu jalan ke front office. dari sana, mbaknya  memberitahu bahwa harus membuat card member dulu. Berapa biayanya, berapa biaya konsultasi dokternya juga di infokan.
Jadi sebagai konsumen, kita benar-benar di beritahu, nanti uang kita kemana aja perginya jadi gak kayak beli kucing dalam karung goni^^

Setelah mendaftar, di beritahu nama dokternya, setelah itu saya naik ke lantai 2. Menunggu panggilan dokter.

Karena selain saya tidak ada orang lain, prosesnya gak pakai lama. Nunggu bentar, belum sempat minum, sudah di panggil masuk.

Dokternya masih muda, cantik dan kulitnya mulus banget ya Tuhan. Mbak dokternya (karena lebih muda dari saya, jadi saya panggil mbak bukan bu) tanya apa keluhan saya.
Saya jawab, jerawat dok, terus kulit gosong, flek-flek di wajah, kering. Kemudian oleh asisten dokternya, di ambil foto muka dari depan, samping kiri dan samping kanan.

Lalu kulit muka di periksa di bawah sinar lampu LED yang terang banget. Setelah selesai, sambil manggut-manggut mbak dokter menulis resep krim-krim apa saja yang harus saya beli.
Kata mbak dokternya, untuk saat ini ngilangin jerawat dulu tujuannya. Nanti kalau jerawat sudah hilang baru perawatan lain di berikan. Oke mbak dokter, siaaappp.

Baik sih dokternya, bisa di ajak ngobrol gitu. Juga ngasih tau step-step pemakaian krim-krimnya. Yang ternyata krimnya lumayan banyak. Harus di tumpuk-tumpuk gitu pemakaiannya.

Setelah selesai konsultasi kemudian turun lagi ke lantai 1 bawa map resep, langsung saya berikan ke mbak yang jaga di counter dan menunggu di panggil lagi.

Deg-degan kira-kira habis berapa yaa..

Kemudian saya di panggil dan membayar/menebus semua krim-nya. Ohya biaya dokternya ternyata terpisah dari harga krim, gak seperti di Natasha.

Normalnya 150.000 untuk konsultasi dokter. berhubung ada promo, jadinya 100.000 saja. Lalu ada biaya admin 15.000 di tambah beberapa macam krim, totalnya jadi habis 577.000

Hahhh plonggg, gak sampai sejuta. gak harus pakai kartu kredit ^^ thanks God




Krim-krim  untuk jerawat saya ini terdiri dari :
Erha 21 facial wash - pagi dan sore
Glycore 8 cream - pagi
Erha 7 foundation - pagi
Aza 20 gel - sore
Erha 21 acne claryfing gel - pagi dan sore
Sunblock memakai punya sendiri
BM 10 - malam (khusus untuk punggung tangan saya yang gosong)

Setelah terbiasa dengan krim Natasha yang hanya krim pagi, tirai, krim malam, memakai krim Erha jadi agak bingung juga. Takut stepnya salah. tapi lama-lama terbiasa juga sih.
Meskipun boros di waktu karena nunggu krim-nya meresap baru di tumpuk krim lagi. Untung saya nganggur haha...

Setelah pemakain satu minggu, jerawat di muka rontok habis gak bersisa. Saya lumayan takjub dan kaget, cepet banget prosesnya.
Mungkin karena krim-nya di khususkan untuk wajah berminyak dan berjerawat.

Krim-krim dari Erha ini bisa saya pakai hingga 1.5 bulan (pemakaian tipis-tipis) gak perlu tebal-tebal.

Setelah krim habis, saya konsultasi lagi ke Erha, konsultasi kedua.
Oleh mbak dokter (dokternya masih sama), karena jerawat sudah hilang, di mulailah perawatan wajah atau rejuvenation. peremajaan kulit gitu kali ya.

Beberapa krim yang dulu masih di pakai, hanya di tambah moisturizer untuk pagi dan 2 macam krim malam yang pemakaiannya harus di campur terlebih dahulu.
Setelah selesai konsul, mbak dokternya bilang, jangan sering-serng konsultasi bu haha..
Lalu di beri waktu 2 bulan baru konsul lagi.

Karena krim-nya masih, meski sudah 2 bulan saya belum konsul lagi. Ngabisin krim dulu sekalian baru nanti konsul lagi.

Plus minus pakai Erha di banding Natasha :

+] Erha gak harus lama ngantri
+] cocok dengan krim-nya Erha
+] harga antara Erha dan Natasha kurang lebih sama
+] Erha lebih profesional, mulai dari sekuriti sampai dokter
+] Erha juga enggak mengharuskan kita menebus semua resep krim. Contohnya, saya masih punya sunblock di rumah dan tidak di haruskan beli sunblock dari Erha
-] packaging krim Erha lebih pro daripada Natasha
-] krim dari Erha macamnya banyak banget, beda dengan Natasha yang tidak harus di tumpuk-tumpuk
-] hanya ada 2 macam facial di Erha yaitu basic dan signature. Perbedaannya terutama di harga, krim yang di pakaikan dan lama waktu facial. Belum nyoba sih ^^


Ada yang pakai Erha juga ? Atau Natasha ? Boleh sharing loh ^^


No comments:

Post a Comment

Comment here :

@instagram